Sabtu, 28 November 2009

Belajar Dari Ibrahim

Hari Raya Idul Adha atau akrab disapa dengan Hari Raya Qurban telah datang kembali menyapa kita. Sebagai seorang muslim keinginan untuk berkurban makin menggebu-gebu di setiap sanubari. Entah apa jadinya jika hikmah di balik seorang ayah dan anak--Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail notabene sebagai seorang anak yang taat dan patuh terhadap ajaranNya dengan tawadhunya ia menerimah perintah dari Yang Maha Pencipta. Bersedia di qurban. Namun karena Allah Maha Mengetahui Segala-galanya maka ia tak jadi di qurban melainkan diganti oleh hewan yang bernama kibas (domba) sebagai pengganti dirinya.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab, "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia, "Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. ” (Ash-Shaaffaat: 102-107)
Mentafakuri surat Ash-Shaaffat di atas, Allah ingin mengajarkan pada kita tentang beberapa hal yakni:

1. Ketaatan pada Allah.

Dalam kisah Ibrahim dan anaknya sudah tergambar jelas bagaimana seharusnya sikap orang-orang yang taat pada Allah,nabi Ibrahim tidak membantah sedikitpun meski harus mengorbankan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Sebagai seorang muslim ketaatan pada Allah dan Rasul adalah suatu yang harus dilaksanakan,hal ini merupakan identitas diri seorang muslim yang akan mengantarkannya pada surga Allah. Dalam surat An nisa’ ayat 69 Allah tegaskan bahwa :

“ Dan barang siapa yang mentaati Allah dan rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiq, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah sebaik-baiknya “

Dalam ayat ini Allah tegaskan bahwa kita diperintahkan untuk melakukan ketaatan dengan janji akan berteman dengan makhluk yang paling mulia dan paling agung derajat mereka, lantaran ketaatan itu, dan Allah tidak pernah mungkir atas janji-janji-Nya.

2. Bersabar dengan keputusan-keputusan Allah

Ketika nabi Ibrahim bermimpi disuruh oleh Allah untuk menyembelih anaknya, dan mimpi itupun berulang sebanyak tiga kali maka tidak ada pilihan bagi manusia Hanif ini selain bersabar dengan apa yang Allah perintahkan kepadanya. Tatkala niat untuk membantai putra satu-satunya disampaikan pada bocah kecil yang bernama Ismail maka peristiwa ajaibpun terjadi tanpa diduga, dimana anak yang masih berusia 10 tahun itu menerima keputusan Allah dengan ikhlas dan sabar, kesabaran itu tertuang dalam kata-katanya “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (Ash-Shaaffat: 102-107)."

Sebuah kisah yang sangat menggugah jiwa dan mengetuk pintu hati kita serta mengajarkan kita untuk selalu bersabar dan ikhlas atas semua keputusan-keputusan Allah. Dalam surat Fussilat 35 Allah katakan :

“ Dan sifat-sifat yang baik itu tidak akan dianugerahkan kecuali pada orang-orang yang sabar dan tidak akan di anugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.”

Hanya kebaikanlah yang akan menemani hari-hari orang yang selalu bersabar karena Allah semata.

3. Selalu berserah diri pada Allah

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia, "Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. ”

Hanya Allah yang Maha menggenggam alam semesta, serta menciptakan segala isinya termasuk kita sebagai seorang manusia. Tak ada sikap yang bisa kita pilih selain memilih untuk berserah diri pada Allah, berserah diri atas segala ujian, musibah dan derita yang menimpa. Dalam perjalanan panjang kehidupan ini, kita akan selalu dihadapkan dengan momentum-momentum yang begitu keras dan akan selalu menuruni labirin suka dan duka. Ketika semua ujian itu melanda maka tidaklah pantas rasanya ketika kita bergantung pada seorang makhluk sementara kita lupa untuk memulangkan semuanya pada Allah.. Hanya Allah tempat kembali dan berserah, kita pasrahkan diri dalam ibadah-ibadah kita, dalam sujud panjang kita dan dalam lantunan tilawah kita. Allah akan menebus orang-orang yang bersabar dengan nikmat yang tidak disangka-sangka.

Allahualam bissawab





Read more...
Jumat, 23 Oktober 2009

HarapanQ

Entah sampai kapan....
Entah sampai dimana....

Yakinkan hati demi satu tujuan....
Berpegang pada satu harapan....

Letih dahaga akan cinta rasuk jiwaku....
Aku coba mencari tanganmu....
Mungkinkah sentuh jiwaku....
Basuhi sedih dan air mataku....
Pegangi aku....
Bimbing aku....


Mencarimu.....

Yang kuinginkan hanyalah hal yang sederhana....
Tangan yang siap menerima lukaku....
Jari yang mampu menghapus peluhku....
Dan jiwa yang siap berkata....
"Jangan bersedih lagi....
Karna kau tak lagi sendiri sekarang!"




Read more...
Jumat, 24 Juli 2009

UHIBBUKI YA UMI

Umi....
Itulah engkau, yang slalu setia mengajarkan kami....

Umi....
itulah engkau, yang berkorban banyak demi anak-anakmu....

Umi....
itulah engkau, yang telah memahamkan kami...
tentang arti cinta....tentang arti kasih....dan arti pengorbanan...

Umi...
itulah engkau, yang telah berjuang dengan harta dan jiwamu, demi keridhoan tuhanmu....

Umi...
itulah engkau, yang terus mengajarkan kami...
walau kami tak peduli, bahkan kadang kami menaruh rasa benci padamu....
Umi....
itulah engkau, yang dengan ketulusan mu, dengan kelembutan dan cintamu
membelai kami dengan sayang yang tiada tara....

Umi....
itulah engkau, dengan segudang pengorbanan
tanpa pamrih, tanpa sedikitpun keluhan yang terucap dari bibirmu....

Umi....
itulah engkau, yang selalu mendoakan kami...
selalu membantu kami, selalu menemami dalam suka dan duka kami
yang selalu mengingatkan kami kala kami salah, kala kami khilaf....

Umi...
itulah engkau, yang tak pernah jemu mencintai dan menyayangi kami...

Umi...
itulah engkau, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu

Umi....
tak tau harus dengan apa kami membalas segala jasamu....
tak tau harus dengan apa kami membalas cinta dan sayangmu yang tak terhingga....

Umi...
walau kadang kata-kata kami menyakitimu, tak pernah sedikitpun kau menunjukkan rasa kesalmu pada kami....

Umi...
dengan apa kami harus membalas segala kebaikan yang telah engkau beri untuk kami
denga apa kami membayar semua yang telah engkau ajarkan....

Umi....
engkaulah anugrah terindah yang Allah beri untuk kami....
engkaulah Murrabi terbaik bagi kami....

Umi....
kami mencintaimu....
walau bibir ini kelu tuk mengucapkannya....
walau sikap ini tak pernah menunjukkan peduli padamu....

Umi....
doa kami tercurah untukmu
semoga kelak kita dikumpulkan kembali di syurga-Nya yang abadi

(I. Maharani. R)




Read more...
Jumat, 03 Juli 2009

Penantian Ini.....

Penantian adalah satu ujian
tetapkanlah aku selalu dalam harapan...
karena keimanan tak hanya diucapkan
adalah ketabahan menghadapi cobaan...

sabarkanlah aku menanti pasangan hati
tulus kan kusambut sepenuh jiwa ini...
di dalam asa diri menjemput berkah-Mu
tibalah ijin-Mu atas harapan ini....

Rabbi, teguhkanlah aku di penantian ini
berikanlah cahaya terang-Mu selalu....

Rabbi, segala upaya hamba-Mu ini
hanyalah bersandar semata kepada-Mu....

Rabbi, ridhailah penantianku ini
hadirkanlah ketentraman di dalam hati....

Rabbi, hanya pada-Mu-lah doaku ini
duhai tempat mengadu segala resah diri......

(Dan's - Rembulan Di Langit Hatiku)


Read more...
Rabu, 17 Juni 2009

Puisi Ini UntukMu

Kau kira puisi ini untukmu
Tak......
Ini untukku dariMu
Biar aku malu.....
Biar aku tahu.....,
aku hanya hasrat dan nafsu

Kau kira baris ini untuk menasehati mu
Tak.......
Karena ku bahkan tak dapat tolong diriku
Bagaimana kukan menasehatimu
Sedang kemunafikan menyelimutiku
Kadang malaikat, kadang setan jalang
Sehari baik sehari buruk
jalanku bagai pelangi

Allahumma, Ya Allah.....
Aku tak miliki sesuatu
Selain ego, jiwa dan nafsuku
Kutak bisa datangkan kebaikan
Pun keburukan bagi diriku
Leherku ada di genggamanMu
Kutak sanggup menjawab pertanyaanMu
Bahkan jawaban terkecilpun ku tak mampu

Allahumma Ya Allah......
Seluruh hidupku kuhabiskan dalam kekafiran
Perilaku buruk dan perbuatan setan menguasaiku
Tak pernah aku melakukan satu amalanpun
yang Kau terima
Engkau adalah Allah.....Aku adalah hamba..
Jangan usir aku yang datang kepintuMu

Allahumma Ya Allah......
Sejak hari dimana Kau ciptakan atom dan zarahku
Sejak hari Kau tiupkan ruhku dan jiwaku
Dari maya hingga menjadi nyata
Hingga kini.....
Betapa banyak ketak patuhan telah kulakukan
Dari zarahku, jiwaku dan tubuhku....
Aku menyesali semua perbuatanku
Jangan menolakku Ya Rabbi..
jangan tinggalkan diriku pada Egoku
Walau hanya sekejap.....

Allahumma Ya Allah.....
Jika Kau memiliki dua pintu bagi hambamu untuk
memasukinya....
Satu untuk hambaMu yang beriman
Satu untuk hambaMu yang kafir
Masukkan aku dipintu yang digunakan hambaMu yg kafir
Karena ku percaya inilah satu2nya pintu masuk
yang pantas untukku

Allahumma Ya Allah......
Aku datang melangkah padaMu
Meraih maqam al-fana fillah
Aku mohon padaMu melenyapkan diriku
Dalam samudera hadiratMu ya Rabbi
Dalam samudera ke Esa-anmu ya Rabbi
Dalam samudera berkahMu dari bulanMu
Samudera wahdaniyah hingga Maqam al fardani

Allahumma Ya Allah jangan Engkau menolakku
laa hawla walaa quwwatta illa billah il aliyyiil azhiim (tak ada daya dan kekuatan selain dengan pertolonganMu)

(nya/gazelle run)

Read more...
Senin, 15 Juni 2009

Air Mata Rasulullah SAW

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.

"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum --peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."

Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"

Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik alaaa wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

NB:

Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita.

Karena sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin... Usah gelisah apabila dibenci manusia karena masih banyak yang menyayangimu di dunia tapi gelisahlah apabila dibenci Allah karena tiada lagi yang mengasihmu diakhirat.

sumber : milis


Read more...
Jumat, 05 Juni 2009

Anggap Saja Aku Tak Ada

Seperti biasa, malam ini

Kamu menekuri segudang pekerjaanmu
Aku lewat kau diam
Baik...! Anggap saja ku tak ada

Setelah selesai, malam ini

Kamu tertidur meringkuk di balik selimut
Aku di dekatmu kau masih diam
Fine...! Anggap saja ku tak ada
Ditengah tidurmu, malam ini

Kau menggeliat bahkan mendengur keras
Aku sengaja menempel kulit denganmu, PLAK !!!
Baru kau sadari bahwa kuada

Tahukah kau,
Aku tak bermaksud mengganggumu
Aku membutuhkanmu...
Bagaimana aku tanpa dirimu?

Mungkin aku tak kan lagi hidup
Jadi biarkanlah aku
Sedikit saja meminta
Setetes darahmu...

Karena aku hanyalah...
Seekor nyamuk kecil yang lapar...




Read more...
Rabu, 03 Juni 2009

Hidup Seperti Teori-teori

...Bernafas semampunya paru-paru
...Berpikir, semampunya jutaan sel menjalankan tugasnya
...Memandang, semampunya mata melihat dunia
...Kaki berjalan kemana arah yang telah di program
...tangan menggenggam yang terpilih

...Ah..sang nafas menghela,..sedikit lelah
seteguk air menyejukkan dahaga
sebentuk pengalaman jadikan suatu persepsi
tentang likuan waktu dalam hidup
...Hei..tersadar, hidup bukan teori-teori
tapi hidup berawal dari teori
bagaimana tidak, dari lahir sampai dewasa teori itu ada
hingga dewasa ingin begini begitu
sampai nyatanya tak begitu
dan ada penjelasan bahwasanya
manusia hanya bisa berencana, berusaha dan berdo'a..
Tuhan jualah menentukan segalanya

Read more...
Recent Post
Recent Comments
 
nya_'s sitE © 2008. Template Design By: SkinCorner